Q pada tahun 1453 sultan muhammad II dari kesultanan Turki Utsmani berhasil menguasai Konstantinopel. jatuhnya Konstantinopel ketangan Turki terdampak besar bagi bangsa-bangsa di Eropa karena. answer choices. perekonomian masyarakat Eropa mengalami kemunduran. budaya Islam semakin berkembang di negara-negara Eropa. NagoyaNews, JAKARTA - Cornelis de Houtman berasal dari Belanda dan merupakan seorang penjelajah. Dikutip dari ensiklopedia Britannica, ia lahir pada tahun 1540 dan meninggal pada 1599 di Aceh. Ia merupakan sosok yang sering diperbincangkan dalam sejarah Indonesia. Dirinya bersama saudara laki-lakinya, Frederik de Houtman, adalah penjelajah Belanda yang pertama kali tiba di Hindia Timur, [] Berikutjawaban yang paling benar dari pertanyaan: Pertama kali belanda mendarat di indonesia dipimpin oleh Cornelis De Houtman di wilayah. Mempertahankan dan memperjuangkan pokok- pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945 dalam kehidupan sehari-hari adalah kewajiban setiap? 10 September 2021; Akhirnyamereka kembali ke Belanda pada tahun 1597. Walaupun pelayaran ini gagal, namun dapat di anggap kemenangan oleh bangsa belanda karena bangsa belanda sudah mulai berani berlayar ke arah Timur. Maka dari itu, cornelis de houtman di anggap sebagai orang yang telah membuka jalur perdagangan rempah rempah bagi bangsa belanda. IPSSekolah Menengah Pertama terjawab Pengganti Cornelis de Houtman dalam menguasai Indonesia adalah Jawaban 4.4 /5 10 adrian4047 daendels maaf kalo dlh yayayayayayayyayayayay idih iwau follow dong cuy ok Lihat komentar lainnya Sedang mencari solusi jawaban IPS beserta langkah-langkahnya? Pilih kelas untuk menemukan buku sekolah Kelas 5 Kelas 6 Rempahdi wilayah itu cornelis de houtman berambisi. School No School; Course Title AA 1; Uploaded By nirmalachassandracc. Pages 265 This preview shows page 28 - 30 out of 265 pages. View full document. See Page 1 . - Cornelis de Houtman adalah seorang penjelajah yang lahir di Belanda pada 2 April 1565. Ia adalah penjelajah yang menemukan jalur pelayaran dari Eropa ke Indonesia dan berhasil memulai perdagangan rempah-rempah untuk Belanda. Cornelis de Houtman pertama kali mendarat di kepulauan nusantara yaitu di daerah ini membawanya berlanjut ke ekspedisi-ekspedisi lain yang berujung pada praktik kolonialisme di Nusantara. Baca juga Indische Partij Pendiri, Latar Belakang, Program Kerja, dan Penolakan Awal Perjalanan Pada tahun 1592 silam, Cornelis de Houtman dikirim oleh para pedagang Amsterdam ke Lisboa guna menemukan sebanyak mungkin informasi tentang kepulauan Cornelis ke Amsterdam, bersamaan juga dengan Jan Huygen van Linschoten juga kembali dari India. Para pedagang ini memastikan bahwa Banten menjadi tempat yang paling tepat untuk membeli rempah-rempah. Pada 1594, mereka pun mendirikan compagnie van Verre Perusahaan jarak jauh dan pada 2 April 1595, empat buah kapal berangkat meninggalkan Amsterdam. Kapal tersebut adalah Amsterdam, Hollandia, Mauritius, dan Duyfken. Sejak awal, perjalanan mereka sudah terkendala dengan berbagai masalah, salah satunya penyakit sariawan yang merebak. Selamat datang di web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang VOC? Apakah kalian pernah mendengar istrilah dari VOC? Jangan khawatir jika kalian belum pernah mendengarnya, disini PakDosen akan membahas secara rinci tentang pengertian, sejarah, latar belakang, tujuan, hak, faktor, politik, daftar, kebijakan dan pengaruh. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan. Pengertian VOC VOC adalah kepanjangan dari Vereenidge Oostindische Compagnie yang berarti “Persekutuan Perusahaan Hindia Timur”. Kenapa diberi nama Hindia Timur, alasannya yaitu pada kala itu juga ada komplotan dagang Hindia Barat yang namanya yaitu Geoctroyeerde Westindische Compagnie. Nah, secara sederhana, VOC ini yaitu suatu kongsi dagang adal Belanda yang pada ketika itu merupakan kongsi dagang yang menguasai dan memonopoli perdagangan di Asia. Di Indonesia sendiri, alasannya yaitu kaya akan rempah-rempah di wilayah timur, maka VOC melancarkan taktik dagang dengan memonopoli segala barang dagangan rempah-rempah di wilayah Timur Indonesia. Sejarah Berdirinya VOC Pembentukan awal VOC dimulai dengan kedatangan orang Eropa melalui Jalur Laut Vasco da Gama pada tahun 1497-1498 yang berlayar dari Eropa ke India melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika yang membuat tidak adanya persaingan dengan pedagang Timur Tengah. untuk mendapatkan akses ke Asia Timur, yang pada awalnya diupayakan pada jalur darat yang sangat berbahaya. Tujuan asli orang Eropa ke Asia Timur dan Tenggara termasuk ke nusantara adalah berdagang, seperti yang terjadi pada bangsa Belanda. Misi dagang tersebut diikuti oleh kebijakan penjajahan Belanda dengan kerajaan Jawa, Sumatera dan Maluku, sedangkan di Suriname dan Curacao, tujuan Belanda sejak awal adalah penjajahan settlement. Dari perdagangan menuju penjajahan bangsa Indonesia Hindia Belanda berasal. Selama abad ke 16 perdagangan rempah-rempah didominasi oleh Portugis dengan menggunakan lisbon sebagai pelabuhan utama. Sebelum revolusi Belanda, kota Antwerp memimpin distributor di Eropa Utara, namun setelah tahun 1591, orang Portugis bekerja dengan perusahaan di Jerman, Spanyol dan Italia sebagai hamburger utama dalam mendistribusikan barang dari Asia,. Tapi perdagangan Portugis tidak bisa memenuhi permintaan, terutama lada. Dari pasokan yang tidak lancar membuat harga merica meroket saat itu. dan pada saat yang sama Unifikasi Portugal dan Kerajaan Spanyol bertempur dengan Belanda pada tahun 1580 yang menimbulkan kekhawatiran Belanda. Dari tiga faktor yang mendorong Belanda memasuki perdagangan rempah-rempah internasional di mana Jan Huyghen van Linschoten dan Cornelis de Houtman menemukan jalan rahasia pelayaran Portugis dan pada waktu itu juga pelayaran pertama Cornelis de Houtman ke Banten, pelabuhan utama di Jawa 1595-1597. Pada 1596, empat ekspedisi kapal dipimpin oleh Cornelis de Houtman menuju Indonesia dan sebagai hubungan pertama Indonesia dengan Belanda. Ekspedisi tersebut sampai di Banten, namun terlibat dalam perselisihan dengan Portugis dan penduduk setempat, kemudian berlayar ke timur melalui pantai utara Jawa, yang diserang oleh pemuda setempat di sedayu mengakibatkan hilangnya 12 awak kapal, dan terlibat dalam permusuhan dengan Penduduk setempat di Madura menyebabkan seorang pemimpin setempat terbunuh. Setelah kehilangan separuh kru, tahun berikutnya memutuskan untuk kembali ke Belanda dengan rempah-rempah yang cukup untuk mendapatkan keuntungan. Pada tanggal 31 Desember 1600, Inggris mendirikan sebuah perusahaan perdagangan Asia bernama The British East India Company yang berbasis di Calcutta. Belanda mengikuti tahun 1602 dengan orang Prancis yang mendirikan French East India Company pada tahun 1604. Pada tanggal 20 Maret 1602, pedagang Belanda mengantar VOC Verenigde Oost-Indische Compagnie atau asosiasi perdagangan India timur. Pada saat itu ada persaingan yang kuat antara negara-negara Eropa seperti Portugis, Spanyol Inggris, Perancis, dan Belanda. untuk melawan kekuatan perdagangan di Asia Timur. Mengenai hal ini, VOC diberi wewenang oleh Belanda dalam menghadapi masalah oleh Jenderal Staaten di Belanda di mana wewenang untuk memiliki biaya sendiri dan membuat kesepakatan negara dan mengumumkan perang di sebuah negara. Kewenangan semacam itu membuat VOC bertindak sebagai negara. VOC kemudian mendirikan kantor pusat di Batavia Jakarta di Jawa dan juga pos-pos penjangkauan kolonial di Maluku pulau rempah-rempah termasuk kepulauan Banda dimana VOC memonopoli pala dan pala yang dipelihara dengan metode kekerasan terhadap penduduk lokal, pemerasan dan pembunuhan massal. Pos perdagangan yang lebih tenang terletak di Deshima, sebuah pulau buatan di lepas pantai Nagasaki dimana orang-orang Eropa berdagang dengan Jepang. Pada tahun 1603, VOC memperoleh izin di Banten untuk mendirikan kantor perwakilan, dan pada tahun 1610 Pieter Keduanya diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama 1610-1614, namun dia memilih Jayakarta sebagai pemerintahan VOC. Sedangkan Frederik de Houtman sebagai Gubernur VOC di Ambon 1605-1611 dan setelah itu ia menjadi Gubernur Maluku 1621-1623. Latar Belakang Pembentukan VOC Pembentukan VOC di Indonesia oleh Belanda ini tentu saja mempunyai dasar atau impian untuk memonopoli Indonesia di bidang perdagangan. Dan ternyata, bukan saja Belanda yang mempunyai impian untuk menguasai perdagangan Indonesia, Inggris pun juga mempunyai niat yang sama. Bahkan, Inggris sanggup dikatakan melangkah lebih dulu daripada VOC dengan membentuk sebuah perserikatan dagang untuk daerah Asia di tahun 1600 yang kala itu diberi nama EIC East India Company. Keberadaan EIC ini menciptakan Belanda khawatir juga atas dominasi perdagangan di Indonesia. Sehingga, persaingan yang ada di antara para pedagang Belanda sendiri kemudian beralih menjadi persatuan dan kesepakatan untuk menciptakan sebuah komplotan guna menghadang gerak langkah dari EIC. Salah satu cara yang sanggup dilakukan oleh para pedagang Belanda untuk membendung EIC ini tidak ada cara lain kecuali dengan mempersatukan para pedagang Belanda dalam suatu wadah atau perserikatan dagang. Kemudian, salah seorang anggota dewan legislatif dari Belanda yang berjulukan Johan van Oldebanevelt mengajukan ajakan mengenai penggabungan pedagang – pedagang Belanda menjadi serikat dagang. Kemudian pada tanggal 20 Maret 1602 atas prakarsa dari Pangeran Maurits dan Olden Barneveld didirikanlah sebuah perkumpulan kongsi perdagangan yang berjulukan Verenigde Oost-Indische Compagnie – VOC Perkumpulan Dagang India Timur. Untuk menjalankan VOC ini, ada pengurus sentra yang terdiri dari 17 orang. VOC kemudian membuka kantor pertamanya di Indonesia tepatnya di Banten yang dikepalai oleh Francois Wittert pada tahun 1602. Tujuan Dibentuknya VOC Di Indonesia Dalam pembentukannya, VOC di Indonesia sendiri mempunyai beberapa tujuan yang spesifik. Sehingga bergotong-royong mereka mempunyai road map yang terang ketika dibentuk, bukan asal dan tanpa tujuan yang jelas. Karena pada masa itu, bergotong-royong ada banyak pedagang Belanda yang juga tengah menjalankan dagang dan bisnisnya di Indonesia. Lalu tujuan menyerupai apa yang mendasari pembentukan VOC di Indonesia ini, di bawah ini yaitu tujuan utama dari pembentukan VOC di Indonesia, antara lain Menghindari persaingan dagang tidak sehat diantara sesama pedang Belanda sehinggan keuntungan maksimal sanggup diperoleh. Memperkuat posisi Belanda dalam menghadapi persaingan dagang dengan bangsa Eropa lainya. Membantu dana pemerintah Belanda yang sedang berjuang menghadapi Spanyol yang masih menduduki Belanda. Dari tujuan di atas tentu sanggup kita pahami bahwa VOC cukup mempunyai taktik jangka panjang yang bukan saja untuk menguasai Indonesia. Namun lebih dari itu, pembentukan VOC juga dalam rangkan menguatkan posisi mereka di hadapan bangsa Eropa lainnya. Selain itu juga untuk memenangkan persaingan perdagangan di Eropa dengan menguatkan posisi diri Belanda. Hak Istimewa VOC Berikut ini terdapat beberapa hak istimewa VOC, yakni sebagai berikut Hak memonopoli perdagangan. Hak membentuk angkatan perang sendiri. Hak melakukan oeoerangan. Hak mengadakan perjanjian dengan raja-raja setempat. Hak untuk mencetak dan mengeluarkan mata uang sendiri. Hak untuk mengangkat pegawai sneidir. Hak untuk memerintah di negara jajahan. Faktor Penyebab Runtuhnya VOC Berikut ini terdapat beberapa faktor penyebab runtuhnya VOC, yakni sebagai berikut Banyak pegawai VOC yang korupsi. VOC terjerat banyak hutang. Pengeluaran VOC yang semakin besar akibat melukakan perang. Adanya persaingan yang ketat dari pedagang Eropa. Penggunaan tentara sewaan yang membebani kas VOC. Adanya perang yang terus menerus oleh VOC sehingga memakan biaya yang cukup besar terutama ketika perang melawan Diponegoro. Pembagian deviden laba dari kegiatan perdagangan kepada pemilik saham walaupun kas VOC mengalami defisit. Politik Ekonomi yang Dijalankan VOC Berikut ini terdapat beberapa politik ekonomi yang dijalankan oleh VOC, yakni sebagai berikut Verplichhte Leverantie Verplichhte Leverantie merupakan memaksa pribumi untuk menjual hasil bumi dengan harga yang telah ditetapkan oleh VOC. Peraturan ini melarang rakyat untuk menjual hasil bumi kepada pedagang lain selain VOC. Hasil bumi tersebut diantaranya lada, kapas, kayu manis, gula, beras, nila serta binatang ternak. Contingenten Contingenten merupakan kewajiban bagi rakyat untuk membayar pajak berupa hasil bumi. Ektripasi Ektripasi merupakan hak VOC untuk menebang tanaman rempah-rempah agar tidak terjadi kelebihan produksi yang dapat menyebabkan harga merosot. Pelayaran Hongi Pelayaran Hongi merupakan bertujuan untuk mengawasi pelaksanaan perdagangan yang dilakukan oleh VOC. Pelayaran ini dilakukan untuk menghindari adanya penyelundupan dan perdagangan pasar gelap yang menyalahi aturan VOC. Tindakan yang dilakukan oleh VOC untuk yang melanggar peraturan atau ketentuan yang sudah disepakati VOC adalah penyitaan barang dagangan, dijebloskan ke penjara, dijual sebagai budak di pasar budak bahkan sampai pada yang terberat yaitu dengan dihabisi. Preanger Stelsel Preanger Stelsel merupakan penyerahan wajib pajak atas hasil bumi warga Priangan pada VOC. Ini terjadi pada periode 1677 sampai 1871, bukan berupa uang namun berupa hasil bumi yang memiliki nilai setara dengan uang pajak itu sendiri. Apabila pribumi tidak memiliki lahan hasil bumi, maka mereka akan dipaksa untuk menjadi budak oleh VOC. Para budak tersebut kemudian dipaksa bekerja biasanya menanam tanaman yang sesuai keinginan dari VOC dengan sistem kerja paksa atau kerja rodi tanpa mendapatkan upah sepeserpun dari VOC. Dengan apa yang dilakukan VOC di Indonesia ini, ada dampak positif meski lebih banyak dampak negatifnya. Dampak positif dari kegiatan VOC ini adalah komoditi rempah-rempah dari Indonesia merupakan komoditi yang sangat laku di Eropa. Sedangkan dampak buruknya adalh terjadinya penindasan yang luar biasa pada pribumi dalam rangka untuk menguasai dan memonopoli komoditi rempah-rempah di Indonesia oleh VOC. Untuk VOC sendiri, jelas ini sangat menguntungkan dan bisa mendapatkan pemasukan yang sangat luar biasa besar. Dan bukan hanya untuk VOC, namun juga menambah pemasukan yang sangat besar untuk Belanda. Keuntungan yang besar ini ternyata menjadi bumerang bagi VOC sendiri. Pasa,nya sikap pejabat yang ada di dalam VOC menjadi semakin serakah dan korupsi semakin besar di sana sini. Terjadinya korupsi ini tentu membuat pemasukan dalam kas Belanda menjadi berkurang, sehingga pada akhirnya pada tanggal 31 Desember 1799 VOC dibubarkan dan digantikan oleh Belanda sendiri. Dan, hutang-hutang VOC pada periode sebelumnya pun kemudian menjadi tanggungan Belanda sehingga keadaan ini tentu membuat kas negara Belanda menjadi berkurang dan bahkan habis. Daftar Gubernur Jenderal VOC Berikut ini terdapat beberapa daftar nama gubernur jenderal VOC, yakni sebagai berikut 1610-1614, Pieter Both 1614-1615, Gerard Reynest 1616-1619, Laurens Reael 1619-1623, Jan Pieterszoon Coen 1623-1627, Pieter de Carpienter 1627-1629, Jan Pieterszoon Coen 1629-1632, Jacques Specx 1632-1636, Hendrik Brouwer 1636-1645, Antonio van Diemen 1645-1650, Cornelis van der Lijn 1650-1653, Carel Reyniersz 1653-1678, Joan Maetsuycker 1678-1681, Rijckloff van Goens 1681-1684, Cornelis Speelman 1684-1691, Johannes Camphuys 1691-1704, Willem van Outhoorn 1704-1709, Joan van Hoorn 1709-1713, Abraham van Riebereck 1713-1718, Christoffel van Swol 1718-1725, Hendrick Zwaardecroon 1725-1729, Mattheus de Haan 1729-1731, Diederik Durven 1731-1735, Dirk van Cloon 1735-1737, Abraham Patras 1737-1741, Adriaan Valckenier 1741-1743, Johannes Thedens 1743-1750, Gustaaf Willem baron van Imhoff 1750-1761, Jacob Mossel 1761-1775, Petrus Albertus van der Parra 1775-1777, Jeremias van Riemsdijk 1777-1780, Reinier de Klerk 1780-1796, Willem Arnold Alting 1798- Pieter Gerardus van Overstraten Kebijakan-Kebijakan VOC Berikut ini adalah beberapa kebijakan-kebijakan VOC yaitu Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan monopoli perdangan Melaksakan politik devide et impera memcah dan menguasai dalam rangka untuk menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia Untuk mempererat kedudukannya, perlu mengangkat seorang Gubernur Jenderal Melaksakan sepenuhnya Hak Oktroi yang diberikan pemerintah belanda Membangun pangkalan atau markas VOC yang semula di banten dan di Ambon, dipindah ke Jayakarta Batavia Melaksakan pelayaran Hongi HOngi tocjten Adanya hak ekstirpasi, yaitu hak untuk membinasakan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan. Pengaruhnya kebijaksanaan VOC bagi rakyat Indonesia Berikut ini adalah beberapa kebijakan VOC bagi rakyat indonesia yaitu Kekuasaan raja menjadi berkurang / bahkan didominasi secara keseluruhan oleh VOC Wilayah kerajaan terpecah belah dengan melahirkan kerajaan dan penguasa baru di bawah kendali VOC Hak Oktroi istemewa VOC, membuat masyarakat Indoneisa menjadi miskin dan menderita Rakyat Indonesia mengenal politik uang, mengenal system pertahanan benteng, etika perjanjian dan prajurit bersenjata modern senjata api, meriam . Pelayaran HOngi, dapat dikatakan sebagai suatu perampasan, perampokan, perbudakan dan pembunuhan. Hak ekstirpasi bagi rakyat merupakan ancaman matinya suatu harapan / sumber penghasilan yang bisa berlebih. Demikian Penjelasan Materi Tentang Sejarah VOC Pengertian, Sejarah, Latar Belakang, Tujuan, Hak, Faktor, Politik, Daftar, Kebijakan dan Pengaruh Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi. Cornelis de Houtman Wikimedia Commons JAKARTA - Cornelis de Houtman, seorang penjelajah asal Belanda adalah orang yang pertama kali menemukan rute perjalanan laut dari Eropa ke Hindia -sekarang Indonesia. Mulanya ia berekspedisi hanya untuk membeli rempah-rempah. Namun, belakangan ia mulai membuat onar. Konon, ekspedisinya yang kedua ditandai sebagai dimulainya masa penjajahan kolonial Belanda terhadap Indonesia. Semuanya bermula pada tahun 1592, dikutip dari Europeana, saat itu Cornelis de Houtman dikirim ke Lisbon oleh kongsi pedagang Amsterdam untuk menggali informasi tentang Kepulauan Rempah. Saat itu, isu mengenai Kepulauan Rempah memang sedang menjadi buah bibir di Eropa. Tugas pertama pun selesai. De Houtman kembali ke Amsterdam. Pada saat bersamaan, Jan Huygen van Lonschoten juga baru saja pulang dari India dengan tugas yang sama. De Houtman, Van Lonschoten dan para pedagang akhirnya berkumpul dan urun rembug menentukan lokasi mana yang hendak mereka tuju. Para kongsi pedagang memutuskan, lokasi yang hendak dituju selanjutnya yakni Bantam Banten. Mereka menakar di sana peluang untuk memboyong rempah-rempah besar. Pada 1594 para kongsi pedagang tersebut mendirikan perusahaan bernama 'Compagnie van Verre' dan pada hari ini, 2 April, pada akhir abad 16 atau pada tahun 1595, empat kapal pedagang yang dipimpin De Houtman pergi menuju Hindia. Keempat kapal tersebut adalah Amsterdam, Hollandia, Mauritius, dan Duyfken. BACA JUGA Sempat singgah lama di Madagaskar, akhirnya rombongan kapal dagang De Houtman tiba di Pelabuhan Banten pada 22 Juni 1596, pada pendaratan mereka yang pertama, hanya mambawa tangan kosong. Menurut catatan Europeana, hal itu mungkin karena mereka jadi korban kelicikan pedagang Portugis yang sudah lebih dulu berada di sana. Selain itu, perilaku pedagang Belanda memang tak bijaksana. Akhirnya mereka]emutuskan untuk berlayar menuju Madura di bagian timur Hindia. Di sana, mereka diterima dengan damai oleh penduduk setempat. Namun apabila, catatan Europeana benar, watak tidak bijaksana Cornelis de Hotman malah membawanya pada tindakan kekacauan. Tindakan ramah penduduk setempat malah dibalas dengan air tuba. Houtman dan rombongan merasa takut dikhianati penduduk setempat, maka mereka secara brutal menyerang penduduk sipil dan melarikan diri dengan kapal mereka. Mereka baru mendapatkan hasil yang mereka cari rempah-rempah, pada 26 Februari 1597. Akhirnya mereka bisa membawa hasil ke kampung halaman mereka, Amsterdam. Namun di tengah jalan kapal-kapal Portugis tak tinggal diam. Mereka merebut pasokan air dan persedian perbekalan rombongan ekspedisi. Dari 249 awak kapal, hanya 87 yang berhasil kembali ke Belanda. Meskipun perjalanan itu menelan banyak korban jiwa dan finansial, namun mereka dinilai tetap mencapai titik impas. BACA JUGA Ekspedisi kedua Pada tahun berikutnya, enam ekspedisi dikerahkan kembali dari Belanda untuk pergi ke Hindia. Pada masa ini pula dianggap sebagai awal penjajahan Belanda pada Hindia. Pada pelayarannya yang kedua, Armada Dagang Belanda sudah dipersenjatai layaknya kapal perang. Di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan saudaranya Frederijk de Houtman pada 21 Juni 1599, mereka memasuki pelabuhan Banda Aceh dan diterima dengan wajar sebagai layaknya kapal dagang negara sahabat. BACA JUGA Namun, Cornelis bersaudara mengkhianati kepercayaan Sultan. Mereka membuat manipulasi dagang, mengacau, menghasut, dan membuat keributan lainnya. Hal itu membuat Sultan mengambil langkah tegas dengan menugaskan kepada Panglima Armada Inong Balee Laksamana Malahayati untuk menyelesaikan pengkhianatan tersebut. Armada Inong Balee kemudian menyerbu kapal-kapal Belanda yang menyamar sebagai kapal dagang. Pertempuran satu lawan satu berlangsung di atas geladak kapal-kapal Belanda. Cornelis de Houtman mati ditikam oleh Malahayati sendiri dengan rencongnya, sementara saudaranya Frederijk de Houtman ditawan. Oleh Yopi Nadia, Guru SDN 106/IX Muaro Sebapo, Muro Jambi, Jambi - Pada tahun 1595, Belanda melakukan penjelajahan Samudera di bawah pimpinan Cornelis De Houtman. Mereka berangkat dari Eropa dan tiba di Indonesia pada tahun 1596 dengan mendaratkan kapalnya di Banten. Pada tanggal 20 Maret 1602, Belanda mendirikan perusahaan dagang di Indonesia yang dikenal dengan Verenigde Oost Indische Compagnie VOC. VOC merupakan usulan dari Olden Barneveld dan dipimpin oleh 17 orang direktur yang disebut Dewan Tujuh Belas atau Heeren Zeventien. Tujuan didirikannya VOC adalah sebagai berikut Menguasai pelabuhan-pelabuhan penting Menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia Melaksanakan monopoli perdagangan rempah-rempah Pengalihan kekuasaan VOC pada kepada kerajaan Belanda Baca juga 6 Tujuan Belanda Mendirikan VOC di IndonesiaLatar belakang VOC menguasai rempah-rempah VOC mampu menguasai dan memonopoli perdagangan rempah-rempah karena dilatarbelakangi dengan beberapa hal, yakni Menaklukan Portugis Dilansir dari buku Nusantara sejarah Indonesia 2008 karya Bernard Hubertus Maria Vlekke, tak lama setelah dibentuk, VOC mampu menyingkirkan Portugis yang sudah lebih dahulu membangun imperium perdagangan di Asia. Sebanyak 13 kapal yang berangkat dari Belanda, dilengkapi persenjataan yang kuat menyerang Portugis dari segala sisi benteng pertahanan mereka. Serangan tersebut berhasil membuat Portugis takluk dan terusir dari Johor. Di Ambon, Portugis menyerah tanpa penyerangan, sedangkan benteng Portugis di Tidore jatuh. Modal yang berlimpah VOC menjadi kongsi dagang terbesar di antara perusahaan-perusahaan dagang yang beroperasi di Asia. VOC tumbuh pesat, salah satunya karena modal yang berlimpah. Dengan modal yang banyak, VOC mampu membiayai operasi-operasi militer yang perlu untuk meraih kedudukan sebagai pemegang monopoli di dunia dalam hal perdagangan rempah-rempah. - Dua kapal besar berbendera Belanda tampak merapat ke Pelabuhan Aceh pada pertengahan Juni 1599. Dua kapal tersebut dinakhodai oleh dua bersaudara, yakni Frederick dan Cornelis de Houtman. Semula, kedatangan mereka disambut dengan baik. Namun, kelak Cornelis justru mati di tangan seorang perempuan tangguh, Laksamana Laut Kesultanan Aceh Darussalam, Malahayati. Pelayaran ke Aceh menjadi tujuan yang ke sekian kalinya bagi de Houtman bersaudara di wilayah Nusantara. Apesnya, nyaris seluruh upaya menemukan pusat rempah-rempah itu berujung kegagalan. Banten, Madura, hingga Bali, sebelumnya telah disambangi, namun selalu berakhir dengan pertikaian kontra warga lokal lantaran tabiat kaum pelaut Belanda yang memang kurang Serambi Mekah, petualangan kakak-beradik ini berakhir. Frederick sempat ditawan pasukan Aceh dan cukup mujur karena akhirnya bisa pulang ke Belanda. Sementara Cornelis bernasib jauh lebih buruk. Nyawanya pungkas di ujung rencong Laksamana Malahayati dalam duel satu lawan satu yang berlangsung di atas kapalnya Istana Berjiwa Tentara Nama aslinya Keumalahayati meskipun ia lebih dikenal dengan sapaan yang lebih singkat Malahayati. Perempuan pemberani ini masih termasuk keluarga inti kerajaan. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, adalah keturunan Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah 1513–1530, pendiri Kesultanan Aceh Darussalam Rusdi Sufi dalam Ismail Sofyan, eds., Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah, 199430.Sejak kecil, Malahayati tidak terlalu suka bersolek. Ia lebih gemar berlatih ketangkasan yang kelak membawanya menuju cita-cita yang memang didambakannya menjadi panglima perang. Bakat itu mengalir langsung dari ayah dan kakeknya yang pernah menjabat sebagai laksamana angkatan laut Kesultanan Aceh Darussalam pernah diperintah oleh beberapa ratu atau sultanah. Pada periode selanjutnya pun Aceh cukup lekat dengan kepemimpinan para wanita tangguh macam Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan seterusnya. Maka, tidak terlalu dipermasalahkan jika pada akhirnya Malahayati memilih jalur militer sebagai pilihan hidupnya. Ia merupakan salah satu hasil didikan Mahad Baitul Makdis, akademi ketentaraan Kesultanan Aceh Darussalam yang merekrut beberapa orang instruktur perang dari Turki Solichin Salam, Malahayati Srikandi dari Aceh, 199526. Malahayati tampaknya memang sangat berbakat di jalan yang harus ditempuh dengan berjibaku sebagai salah satu lulusan terbaik di Mahad Baitul Makdis membawa Malahayati ke level yang lebih tinggi. Pada era Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil 1589-1604, ia ditunjuk menjadi Komandan Istana Darud-Dunia–Kepala Pengawal sekaligus Panglima Protokol Istana–menggantikan suaminya yang gugur saat menghadapi Portugis di Teluk Haru, perairan Alauddin juga memberi Malahayati kepercayaan untuk menduduki pucuk pimpinan tertinggi angkatan laut kerajaan dengan pangkat laksamana, jabatan yang pernah pula diemban oleh ayah juga kakeknya. Menurut Endang Moerdopo dalam Perempuan Keumala 2008xi, Malahayati disebut-sebut sebagai laksamana laut perempuan pertama di Nusantara, bahkan mungkin di dunia. Duel Melawan Kapten Belanda Malahayati tidak hanya memimpin tentara yang didominasi golongan pria, ia juga menggalang kekuatan kaum wanita, terutama para janda yang ditinggal mati suaminya dalam perang di Teluk Haru, sama seperti dirinya. Menurut Damien Kingsbury dalam Peace in Aceh 2006195, barisan janda pemberani pimpinan Malahayati ini dikenal dengan nama Inong Balee. Awalnya, pasukan Inong Balee hanya beranggotakan orang. Namun kemudian kekuatannya bertambah menjadi personel. Malahayati menjadikan Teluk Lamreh Krueng Raya sebagai pangkalan militernya, dan di perbukitan yang terletak tidak jauh dari situ ia membangun benteng sekaligus menara memang tampak menonjol pada masa-masa itu. Selain mengelola pasukan, ia juga mengawasi seluruh pelabuhan dan bandar dagang di wilayah Aceh Darussalam, beserta kapal-kapalnya. Saat itu, kesultanan memiliki tidak kurang dari 100 buah kapal berukuran besar yang masing-masing bisa mengangkut lebih dari 400 pada 21 Juni 1599, rombongan penjelajah Belanda yang dipimpin de Houtman bersaudara merapat ke dermaga milik Aceh Darussalam. Ibrahim Alfian dalam Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah 199967 menyebutkan bahwa dua kapal besar yang datang itu bernama de Leeuw dan de Leeuwin. Frederick dan Cornelis de Houtman bertindak sebagai kapten masing-masing kapal tersebut. Infografik Mozaik Keumalahayati. hubungan para pendatang dari Eropa itu dengan rakyat dan Kesultanan Aceh Darussalam terjalin baik-baik saja. Sampai kemudian, akibat tingkah orang-orang Belanda serta provokasi dari seorang Portugis yang dipercaya oleh Sultan Alauddin, mulai muncul benih-benih situasi yang mulai panas, Frederick dan Cornelis berkoordinasi di atas kapal mereka, mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan yang mungkin bakal datang. Dan memang benar, Sultan Alauddin memerintahkan kepada Laksamana Malahayati untuk menyerbu dua kapal Belanda yang masih bertahan di Selat Malaka terjadilah pertempuran di tengah laut. Armada Belanda rupanya kewalahan menangkal ketangguhan pasukan Malahayati yang jumlahnya ribuan, termasuk barisan janda berani mati. Hingga akhirnya Laksamana Malahayati berhasil mencapai kapal Cornelis de Houtman dan saling menggenggam erat rencong di tangannya, sementara si kapten Belanda bersenjatakan pedang. Duel satu lawan satu pun terjadi. Pada satu kesempatan di tengah pertarungan, Malahayati berhasil menikam Cornelis hingga tewas. Peristiwa itu terjadi pada 11 September 1599, tepat hari ini 421 tahun silam. Armada Belanda kalah dan kehilangan banyak orang. Sedangkan mereka yang tersisa ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara, termasuk saudara Cornelis, Frederick de Houtman. Peristiwa heroik ini dikisahkan kembali oleh Marie van C. Zeggelen dalam buku berjudul Oude Glorie 1935.Beberapa warsa selepas pertempuran itu, Laksamana Malahayati wafat dengan meninggalkan nama besar yang bahkan diakui oleh bangsa-bangsa Eropa Fenita Agustina, ed., 100 Great Women Suara Perempuan yang Menginspirasi Dunia, 201087. Jenazah Sang Srikandi dari tanah rencong dikebumikan di kaki Bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh kemudian, lebih dari 400 tahun berselang, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyematkan gelar Pahlawan Nasional untuk Malahayati pada 6 November 2017. Kini orang tahu, Aceh bukan hanya punya Cut Nyak Dien atau Cut Meutia, tapi juga punya sosok perempuan lainnya yang tak kalah perkasa, laksamana wanita pertama di dunia, Malahayati. - Humaniora Penulis Iswara N RadityaEditor Irfan Teguh

pengganti cornelis de houtman dalam menguasai indonesia adalah